Care For Life

Selamat datang..Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) merupakan organisasi sosial kemanusiaan yang peka dengan masalah sosial di lingkungan sekitar.Kejadian demi kejadian bencana telah melanda negeri ini. Masing-masing dari kita tergerak untuk meringankan beban dari saudara-saudara kita yang terimpa musibah.Hanya satu alasan yang mampu menyatukan kita dalam satu organisasi ini, yaitu "Care for Life"


Jumat, 24 Desember 2010

Poskes BSMI 19 desember 2010 di Metro, Bandung

Ahad, 19 desember 2010, BSMI kembali memberikan pelayanan kesehatan di Metro,  Bandung. seperti kegiatan posko kesehatan (poskes) sebelumnya, kita memberikan pelayanan cek tensi, berat badan, gula, kolesterol, dan asam urat. Poskes ini kita buka pada pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 10.30 WIB. Sesaat setelah posko dibuka, banyak pejalan kaki yang sedang mengunjungi pasar tumpah yang sedang digelar di daerah ini, juga mengunjungi posko kami. Alhamdulillah, beberapa dari pengunjung yang memeriksakan kesehatannya merupakan pengunjung-pengunjung pada minggu sebelumnya. 

Ada hal yang menarik pada poskes kali ini, beberapa dari mereka menanyakan apa itu BSMI? ya, sambil memberikan pelayanan kesehatan, kita juga memberikan penjelasan tentang BSMI, yang jelas BSMI bukan merupakan organisasi politik yang seperti mereka kira sebelumnya, tetapi merupakan organisasi sosial yang tanggap terhadap masalah-masalah kemanusiaan yang  sedang terjadi.

Rabu, 22 Desember 2010

Dayeuh Kolot, Bandung Kembali Terendam


Ahad, 19 desember 2010, BSMI memenuhi  permintaan Forum Musyarah Masjid di Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan di daerah  tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat Dayeuh Kolot yang sudah berhari-hari terendam banjir akibat luapan Sungai Citarum. Dalam kegiatannya, diberikan pelayananan kesehatan gratis kepada114 warga korban banjir yang menderita penyakit paska banjir dan juga penyakit-penyakit lainnya.

Senin, 13 Desember 2010

Poskes BSMI 12 Des 2010 di Metro, Bandung

Ahad/minggu, 12 desember 2010, BSMI Kab. Bandung menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan kesehatan di Metro Margahayu, Jl. Soekarno Hatta, Bandung. Alasan pemilihan tempat yaitu pada saat hari ahad, di daerah ini sering kali merupakan tempat digelarnya pasar tumpah. Dasar kegiatan ini yaitu dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat di wilayah Bandung. Adapun kegiatannya antara lain, pemeriksaan tensi, cek gula, cek kolesterol, cek asam urat, pengukuran Indeks Massa Tubuh. Dalam kegiatannya, kami melibatkan beberapa teman-teman relawan dari FK unpad, Poltek Al Islam, Kebidanan Poltekkes Bandung dan STAI AI Jawami Bandung.
   
Kegiatan ini kita mulai dari pukul 07.00 WIB. sesaat setelah dibuka, banyak pejalan kaki yang mulai melirik posko kami. Satu persatu dari mereka mulai menanyakan apa saja yang pelayanan yang disediakan dan selanjutnya pengunjung mulai meminta untuk dilakukan pemeriksaan. Disaat diperiksa, beberapa pasien mengeluhkan nyeri ditengkuk leher, nyeri persendian, dll. Sehingga, sambil melakukan pemeriksaan, kita melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan terhadap pasien. Setelah pemeriksaan selesai, pasien kita berikan penjelasan mengenai hasil pemeriksaannya dan juga kita berikan panduan diet makan untuk pasien yang menderita hipertensi, cholesterolemia, gout artritis, dan diabetes mellitus. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, kita juga melaksanakan pengumpulan donasi untuk korban banjir. Alhamdulillah, beberapa dari pemeriksa mau mendonasikan sebagian rizkinya untuk kegiatan tersebut. Selain itu juga, para pejalan kaki pun tak lupa membantu memberikan donasinya.
    
Alhamdulillah, pada saat pengunjung sudah sepi, kira-kira pukul 11.00 WIB, kita menyudahi kegiatan posko kesehatan ini. Banyak hal baik yang kita dapatkan hari ini. Selain itu juga, kita dapat kesan dari masyarakat mengenai BSMI. Bapak A,"ini (BSMI) bagus Ma, organissi kesehatan yang berjuang di jalan Islam", "oh aku tau kalo BSMI, yang sering turun ke Gaza itu kan". terima kasih masyarakat, semoga kami tetap terus bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk kemanusiaan.

Jumat, 10 Desember 2010

Menguak Jejak Kedokteran Islam

Islam memberi kontribusi penting pada ilmu kedokteran.

`'Ilmu kedokteran tak lahir dalam waktu semalam,'' ujar Dr Ezzat Abouleish MD dalam tulisannya berjudul Contributions of Islam to Medicine. Studi kedokteran yang berkembang pesat di era modern ini merupakan puncak dari usaha jutaan manusia, baik yang dikenal maupun tidak, sejak ribuan tahun silam.

Saking pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi ke generasi dan bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India, serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan cara sederhana.

Orang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan. Pada era ini, menurut penulis Canterbury Tales, Geoffrey Chaucer, di Yunani telah muncul beberapa dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusi mengembangkan ilmu kedokteran adalah Hippocrates atau `Ypocras' (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasar-dasar pengobatan.

Selain itu, ada juga nama Rufus of Ephesus (1 M) di Asia Minor. Ia adalah dokter yang berhasil menyusun lebih dari 60 risalat ilmu kedokteran Yunani. Dunia juga mengenal Dioscorides. Dia adalah penulis risalat pokok-pokok kedokteran yang menjadi dasar pembentukan farmasi selama beberapa abad. Dokter asal Yunani lainnya yang paling berpengaruh adalah Galen (2 M).

Ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Menurut Ezzat Abouleish, seperti halnya lmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.

Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab.

Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma'mun dari Diansti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.

Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti, Jurjis Ibn-Bakhtisliu, Yuhanna Ibn Masawaya, serta Hunain Ibn Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemahan itu yang beragama Kristen. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh penguasa Muslim.

Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru.

Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia kedokteran, hingga sekarang. `'Islam banyak memberi kontribusi pada pengembangan ilmu kedokteran,'' papar Ezzat Abouleish.

Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam sekolah Jindi Shapur. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.

Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu-Bakr Mohammaed Ibn-Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul 'Al-Mansuri' (Liber Al-Mansofis).

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul 'Al-Murshid'. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah 'Al-Hawi'. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, 'Al-Tastif Liman Ajiz'an Al-Ta'lif' - ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang tentang operasi gigi.

Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomela yang berhasil ditulisnya adalah Al-Qanon fi Al- Tibb atau Canon of Medicine. Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Dokter kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul 'Al- Kulliyat fi Al-Tibb' (Colliyet). Buku itu berisi ramngkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul 'Al-Taisir' mengupas praktik-praktik kedokteran.

Nama dokter Muslim lainnya yang termasyhur adalah Ibnu El-Nafis (1208 - 1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan kedokteran Islam. Ibnu El-Nafis sempat menjadi kepala RS Al-Mansuri di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salahsatunya yang tekenal adalah 'Mujaz Al-Qanun'. Buku itu berisi kritik dan penmbahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina.

Beberapa nama dokter Muslim terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain; Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan Al-Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan Afrika.

Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.

Rekam Medis, Warisan RS Al-Nuri

Pada era keemasan Islam, ibu kota pemerintahan selalu berubah dari dinasti ke dinasti. Di setiap ibu kota pemerintahan, pastilah berdiri rumah sakit besar. Selain berfungsi sebagai tempat merawat orang-orang yang sakit (RS), rumah sakit juga menjadi tempat bagi para dokter Muslim mengembangkan ilmu medisnya. Konsep yang dikembangkan umat Islam pada era keemasan itu hingga kini juga masih banyak memberikan pengaruh.

RS terkemuka pertama yang dibangun umat Islam berada di Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan Dinasti Umayyah itu bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156 M, setelah era kepemimpinan Khalifah Nur Al-Din Zinki pada 1156 M.

Pada masa itu, RS Al-Nuri sudah menerapkan rekam medis (medical record). Inilah RS pertama dalam sejarah yang menggunakan rekam medis. Sekolah kedokteran Al-Nuri juga telah meluluskan sederet dokter terkemuka, salah satunya adalah Ibn Al-Nafis - ilmuwan yang menemukan sirkulasi paru-paru. RS ini melayani masyarakat selama tujuh abad, dan bagiannya hingga kini masih ada.

RS penting lainnya yang dibangun umat Islam berada di Baghdad. Ketika Khalifah Harun Al-Rashid berkuasa, dia memerintahkan cucu Ibn-Bahtishu, yang juga dokter istana bernama Jibril untuk membangun RS Baghdad. RS ini berkembang menjadi sebuah pusat kesehatan yang amat penting. Salah satu pemimpinnya adalah Al-Razi, ahli penyakit dalam termasyhur.

RS terkemuka lainnya di Baghdad adalah Al-Adudi yang dibangun pada 981 M, setelah Khalifah Adud Al-Dawlah. Bangunan RS merupakan paling megah di Baghdad sebelum era modern. RS tersebut dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang paling lengkap dan terkemuka pada masanya. RS itu hancur lebur ketika bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan menyerang Baghdad pada 1258 M.

Ilmu kedokteran Islam juga berkembang di Mesir. Pada 872 M, Ahmed Ibn-Tulun membangun RS Al-Fusta di kota Al-Fustat, sekarang Kairo. Pada 1284 M, Khalifah Al-Mansur Qalawun juga membangun RS terkemuka bernama Al-Mansuri. Di Tunisia, pada 830 M, Pangeran Ziyadad Allah I membangun RS Al-Qayrawan di wilayah kota Al-Dimnah. RS ini sudah menerapkan pemisahan antara ruang tunggu pengunjung dan pasien.

Di Marokko, pada 1190 M, Khalifah Al-Mansur Ya'qub IbnuYusuf, membangun RS Marakesh. Itu adalah RS terbesar da terindah karena dihiasi taman yang penuh dengan bunga dan pohon buah-buahan. Ilmu medis juga berkembang pesat di Spanyol. Pada 1366 M, Pangeran Muhammed Ibn-Yusuf Ibn Nasr, membangun RS Granada di kota Granada.




Kontribusi Dokter Muslim

Bakteriologi
Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri. Dokter Muslim yang banyak memberi perhatian pada bidang ini adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.

Anesthesia
Suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Ibnu Sina tokoh yang memulai mengulirkan ide menggunakan anestesi oral. Ia mengakui opium sebagai peredam rasa sakit yang sangat manjur.

Surgery
Bedah atau pembedahan adalah adalah spesialisasi dalam kedokteran yang mengobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter Islam yang berperan dalam bedah adalah Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas Al-Zahrawi.

Ophthamology
Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak serta pendengaran. Dokter Muslim yang banyak memberi kontribusi pada Ophtamology adalah lbnu Al-Haytham (965-1039 M). Selain itu, Ammar bin Ali dari Mosul juga ikut mencurahkan kontribusinya. Jasa mereka masih terasa hingga abad 19 M.

Psikoterapi
Serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Dokter Muslim yang menerapkan psikoterapi adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/02/27/34537-menguak-jejak-kedokteran-islam

ANATOMI DAN FISIOLOGI KEDOKTERAN ISLAM

Rabu, 01 Desember 2010

SUDAH KENALKAH ANDA DENGAN LAMBANG BULAN SABIT??


Rasa-rasanya belum banyak masyarakat yang tahu bahwa di lembaga legislasi DPR RI saat ini tengah dibahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Lambang Palang Merah (LPM). Meski belum banyak yang tahu, RUU itu oleh kelompok tertentu didorong sekuat-kuatnya untuk segera disahkan. Mereka ingin melakukan monopoli lambang pada lembaga kemanusiaan di Indonesia.
Itu artinya, lambang selain palang merah tidak boleh digunakan di Indonesia. Padahal selain lambang palang merah, dunia internasional juga mengakui keberadaan lambang bulan sabit merah.
Karena banyak yang tak tahu, maka tak banyak pula orang yang mengkritisi atau menolak RUU ini. Dokter Basuki Supartono adalah di antara figur yang sedikit menolak RUU LPM. Bersama lembaga yang dipimpinnya, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), ia kemana-mana selalu mengkampanyekan penolakan monopoli lambang palang merah.
Menurut dokter Basuki, mereka yang getol mengajukan RUU ini adalah orang-orang yang tidak suka terhadap Islam. ”Bagaimanapun juga lambang bulan sabit merah identik dengan Islam. Kalau Indonesia sampai menggunakan lambang bulan sabit merah berarti kita berada di blok Islam. Mereka takut dengan itu,” ujar dokter Basuki, Ketua Umum BSMI.
Selama ini, kata Basuki, masyarakat Indonesia lebih populer dengan lambang palang merah. Masyarakat tak banyak mengenal lambang bulan sabit merah. Lambang palang merah merupakan warisan dari para penjajah non-Muslim yang menjajah Indonesia. Basuki berharap media-media Islam turut serta mempublikasikan dan meluruskan sejarah tentang masalah ini.
Selain aktif di BSMI, lulusan Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya ini juga bertugas sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Politik Sosial Ekonomi dan Budaya, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
Awal September lalu, wartawan Majalah Suara Hidayatullah, Ahmad Damanik, Ibnu Syafaat dan fotografer M Abdus Syakur silaturahim ke kantornya di daerah Senayan, Jakarta Pusat. Berikut petikan wawancara dengan Dr Basuki tentang RUU LPM.
Sebetulnya siapa pengusul RUU Lambang Palang Merah?
Keberadaan RUU Lambang Palang Merah sebetulnya merupakan respon dari Palang Merah. Mereka berkoordinasi dengan departemen terkait, lalu menjadi inisiatif pemerintah. Namun, secara urgensi dan filosofi hukum masih perlu dipertanyakan. Apakah perlu masalah lambang diatur dalam satu UU? Bukankah masalah utama kita kemiskinan, kebodohan, dan kemaksiatan? Seberapa perlukah negara melakukan intervensi terhadap hal seperti ini?
Apa yang Anda khawatirkan bila RUU tersebut disahkan?
Saya khawatir, jika ada UU Palang Merah, maka nanti ada juga yang mengusulkan UU lambang Ka’bah misalnya. Nantinya banyak kalangan yang akan menuntut. Ini kan sangat spesifik, RUU Lambang Palang Merah. Mestinya lebih umum dan subtansional, misalnya RUU organisasi kemanusiaan. Nanti kalau UU ini spesifik pada unit tertentu, maka lembaga lain akan menuntut. Contohnya begini, di Indonesia kan banyak lembaga zakat; ada PKPU, Hidayatullah, Muhammadiyah, Baznas. Tapi kan UU-nya bukan spesifik tentang Baznas, UU tentang zakat.
Apakah urgensitas ini pernah Anda pertanyakan kepada pengusung RUU ini?
Kami sudah sampaikan kepada mereka. UU diatur untuk mensejahterakan dan keadilan masyarakat. Kalau satu RUU memunculkan satu polemik, lalu terjadi hal yang tak diinginkan, menganggu kenyamanan masyarakat, maka apa pentingnya UU ini dirilis. Sekarang ini RUU Lambang Palang Merah sedang dalam pembahasan di legislasi (DPR), di Prolegnas (Program Legislasi Nasional).
Saya pernah menyampaikan harapan kepada beberapa pejabat negara. Seperti Pak Patrialis Akbar. Kami minta agar BSMI diakui. Lalu Pak Patrialis tanya, ”Kalau tidak bisa bagaimana?” Lalu saya bilang, ”Kalau tidak bisa, paling tidak kami tidak dieliminir.” Kegiatan BSMI ini kan civil sociaty.
Menkokesra juga memiliki pandangan tidak akan mengeliminir keberadaan bulan sabit merah. Memang di dunia internasional sementara ini yang dikenal adalah palang merah. Namun, mereka tak akan menganggu aktivitas bulan sabit merah.
Menpora juga demikian. Di alam demokrasi ini sebagai civil sociaty kan boleh-boleh saja. Kalau orang ingin berbuat baik mengapa mesti dilarang? Yang dilarang itu kan mestinya orang berbuat kejahatan.
Itu hanya dalam bentuk komitmen lisan dari para pejabat saja agar tidak mengeliminir bulan sabit merah. Lalu antisipasi apa jika RUU itu betul-betul disahkan?
Kami selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semua pasti ada jalan keluarnya. Saya tetap optimis mereka akan mengakomodir. Karena terlalu berisiko bila sampai bulan sabit merah dibubarkan. Pertama, filosofi hukumnya tidak masuk. Kedua, realitas sosialnya ada dan berkembang di masyarakat. Kami ini mengisi ceruk yang kosong. Misalnya ke Palestina. PMI tidak datang, maka kami yang datang. Kan ujung-ujungnya untuk masyarakat dan bangsa juga.
Semakin banyak organisasi semakin bagus, semakin banyak yang peduli dan masyarakat yang terbantu. Masak orang yang mau berbuat baik malah ”dibunuh”.
Ketua PMI, Jusuf Kalla, itu kan orang yang cukup dekat dengan Ormas Islam. Seperti apa tanggapan beliau tentang RUU ini?
Saya sudah dua kali berjumpa beliau di dua momen yang berbeda. Saat dia masih menjabat sebagai Wapres dan sudah tidak lagi menjabat Wapres. Sikapnya berbeda sekali. Saat menjadi Wapres dia akomodatif. Dia menerima kami di Istana Wakil Presiden. Saat menjadi Ketua PMI, saya memberi selamat. Di kesempatan itu dia bilang seharusnya tidak ada bulan sabit merah. Menurutnya, itu ashobiyah (fanatisme kelompok).
Adakah upaya BSMI untuk menghimpun dukungan dari Ormas-ormas Islam?
Saat ini kami sudah berbentuk ormas. Sebelumnya kami yayasan. Seperti ormas lainnya, maka BSMI adalah organisasi kader yang melakukan kaderisasi dan pendirian cabang-cabang. Bahkan kami punya AD/ART hingga tingkat kelurahan.
Memperjuangkan lambang bulan sabit ini bukan hanya tugas saya. Ini adalah perjuangan kita semua. Alangkah bahagianya bila bulan sabit merah menjadi lambang yang diterima di negara ini. Artinya, negara mengakui kehadiran realitas dan aktivitas bulan sabit merah. Walaupun kita dalam bekerja tak membedakan antara orang Islam dan orang Kristen, tapi boleh dong kita mengekspresikan sikap dengan memiliki bendera. Saya yakin lambat laun kami akan diterima. Sebetulnya ini kan hanya kecelakaan sejarah saja!
Maksudnya?
Pada masa penjajahan yang berjuang mengusir penjajah kan umat Islam. Yang menjajah kan orang Kristen, Belanda. Tank-tank-nya pakai lambang palang merah. Karena Belanda menggunakan lambang palang merah. Seandainya kita dijajah oleh Mesir, mungkin lambang kita saat ini bulan sabit merah. Tapi kan Mesir tidak mungkin menjajah kita.
Yang menjajah kita negara-negara (Jepang, Belanda, Inggris..Red) yang menggunakan lambang palang merah. Sehingga, saat ini masyarakat hanya mengenal palang merah saja. Nah, inilah tugas kita bersama, khususnya media untuk menjelaskan kepada masyarakat luas.
Kalau dukungan Ormas-ormas Islam bagaimana, adakah yang ingin mempertahankan lambang bulan sabit merah ini?
Mereka mendukung. Muhammadiyah secara spirit mendukung. NU juga demikian. Problematika utama saat ini kan bagaimana kita memberikan informasi dan sosialisasi lambang dan gerakan bulan sabit merah. Di dunia hanya ada dua lambang, yakni palang merah dan bulan sabit merah. Sekarang tinggal pilih?!
Jepang, Australia, Amerika mereka gunakan lambang palang merah. Sementara Mesir, Brunei, Palestina, Saudi Arabia, Pakistan, Iran, Iraq menggunakan bulan sabit merah. Kita boleh memilih kok! Hanya Israel saja yang tidak mau pilih kedua lambang tersebut. Mereka menggunakan bintang david merah. Artinya lambang ini ada kaitannya dengan keyakinan mereka.
Jadi masalah keyakinan, jangan diatur dalam UU. Kan tidak boleh ada UU Agama Islam, semua warga negara Indonesia harus beragama Islam. Sebaliknya, jangan memaksa orang berlambang palang merah.
Apa BSMI sudah terdaftar di dunia internasional?
Belum. Sengaja, karena kami tak ingin konflik dengan palang merah. Biarlah PMI yang sementara mewakili negara kita. Tetapi kiprah kami di luar negeri tidak pernah absen. Biarlah masyarakat yang menilai.
Kalau di internal BSMI sendiri bagaimana cara Anda menjelaskan kepada kader-kader terkait polemik lambang ini?
Saya menjelaskan lambang dan gerakan ini adalah bentuk kemanusiaan. Bulan sabit merah adalah milik dunia. Terakhir milik khilafah Islamiyah. Tapi karena penjajahan yang terjadi di mana-mana membuat lambang ini tidak populer di masyarakat, termasuk di Indonesia. Padahal, Indonesia negara terbesar berpenduduk Muslim di dunia. Bahkan 80 % umat Islam di dunia itu bukan ada di tanah Arab, melainkan ada di Indonesia. Negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim rata-rata menggunakan lambang bulan sabit merah. Hanya Indonesia yang belum.
Orang-orang yang tidak suka Islam sangat berkepentingan agar Indonesia jangan sampai menggunakan lambang bulan sabit merah. Kalau Indonesia sampai menggunakan lambang bulan sabit merah berarti kita berada di blok Islam. Mereka takut dengan itu.
Apa Anda melihat ada intervensi asing terkait ’pemaksaan’ lambang palang merah ini?
Saya kira begitu. Draft RUU itu adopsi dari internasional. Pernah suatu hari ketika saya selesai mengikuti rapat dengan DPR saya melihat ada orang asing yang membawa laptop berada di ruang yang baru saja dipakai untuk rapat tentang RUU tersebut.
Bagaimana sikap anggota DPR Muslim dengan RUU tersebut?
Mereka dilobi oleh palang merah, diajak jalan-jalan. Mereka diajak meninjau palang merah di beberapa negara. Sepulang dari luar negeri mereka mengatakan bahwa negara ini harus punya palang merah. Padahal, kalau DPR mau, bisa diubah. Negara boleh mengganti lambang palang merah. Kita referendum saja. Akhirnya tidak ada yang bela.
Namun, kami terus melakukan pendekatan secara personal. Sebetulnya secara pribadi mereka mendukung, tapi karena mereka punya jabatan mereka takut. Mereka mengamankan jabatannya.
Bagaimanapun juga UU ini kan mengancam eksistensi BSMI. Adakah perubahan strategi bila RUU ini disahkan?
Seperti yang saya katakan, kami secara aspek kelembagaan sudah berubah wujud menjadi ormas. AD/ART kita mengatur tentang kaderisasi. Artinya, kita berhak melakukan kaderisasi dan rekrutmen hingga tingkat kelurahan. Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma setiap pengurus. Bahwa yang namanya ormas harus memiliki anggota dan melakukan pembinaan anggota. Harus memiliki pengurusan di berbagai daerah. Kami juga memfokuskan hubungan baik kepada masyarakat.
Kami juga berupaya mandiri. Punya rumah sakit, klinik, dan sarana kemanusiaan lainnya. Pada prinsipnya kami sedang memperbaiki kelembagaan, kaderisasi, dukungan ke masyarakat, kerjasama dengan berbagai pihak, dan pemberdayaan lembaga.***SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2010
http://majalah.hidayatullah.com/?p=1909
http://majalah.hidayatullah.com/?p=1909

Senin, 22 November 2010

Sejarah Kedokteran Islam dan Bulan Sabit Merah

Perkumpulan Kebajikan Umum Berdasarkan lslam
Pada masa Rasulullah saw telah berdiri perkumpulan perawat wanita bertugas menolong orang-orang yang terluka dan sakit dalam peperangan. Mereka megobati  dan membebat, kemudian membawa korban perang itu ke kemah-kemah yang aman.inilah model “palang merah” yang ditiru oleh Henry Dunant yang penganut nasrani itu. Tentang perkumpulan ini, Ibnu Abbas ra berkata:
Pada masa pemerintahan Bani Umayah, Abasiyah Bani Salzuk, perkumpulan penolong ini dikembangkan dan akitifitas mereka dibiayai oleh pemerintah. Ketika berkecamuk perang salib antara umat Islam dengan pihak nasrani,tampak sekelompok muslimat yang berjilbab putih berlambangkan “Bulan Sabit “. Mereka dengan ikhlas mengobati orang-orang yang terluka dari pihak manapun. Bahkan raja Richard (penguasa lnggris) pun ketika terluka dan berbaring di kemahnya, ia ditolong oleh seorang tabib dari kelompok sukarelawan atas perintah sultan Salahudin Al Ayubi. Dalam keadaan damai, mereka menjadi penolong orang yang miskin, berdakwah, mengadakan tablig, membagikan sedekah, membantu mencarikan dana Baitulmal bagi daulah islam, mengurusi masalah kesehatan masyarakat, dan menggalakan kesehatan untuk masyarakat.
Lambang Bulan Sabit
Pada zaman Rasullulah Saw, setiap pasukan memiliki lambangnya sendiri. Nabi Saw mempunyai pasukan khusus dengan lambang bulan sabit. Menurut sejarawan, khalifah umar ibnu al khatab juga menggunakan lambang tersebut untuk penyebaran islam. Di duga, lambang tersebut merupakan “ siasat “ bagi penyebaran islam.
Lambang bulan sabit di gunakan pula sebagai bendera Bani Salzuk. Ia kemudian di gunakan oleh ke khilafan turki utsmani dengan bentuk bulan sabit putih dengan warna dasarnya merah. Kemudian harinya, lambang tersebut di pergunakan oleh semua negeri – negeri islam. Pada abad ke 6 hijriah, lambang ini banyak di pakai untuk menghias ujung tombak menara masjid, mulai dari persia sampai ke hampir ke seluruh dunia islam.
Apa arti lambang bulan sabit? ternyata ia mengandung pengertian yang dalam. Badan bulan berbentuk ( ะก ) artinya kuatkanlah asas (aqidah) dan siarkanlah islam ke arah kanan dan kiri. Maksudnya, siarkan ke seluruh dunia sehingga menyeluruh sebenarnya. Sampai sekarang pun negeri – negeri Islam, lambang perserikatan amal ke bajikan dan kesehatan dari pihak islam adalah “ Bulan Sabit Merah”. Lambang tersebut juga menjadi ciri khas bagi rumah sakit, balai pengobatan dan sarana kesehatan lainnya. Sedangkan lambang “ palang merah “ yang berasal dari keagamaan nasrani yang berupa “ salib suci merah”, maka di negeri – negeri islam lambang tersebut tidak boleh di pakai.

copas dari:
http://indonesianredcrescent.wordpress.com/2010/05/01/sejarah-kedokteran-islam-dari-masa-ke-masa/

Minggu, 28 Maret 2010

BSMI kembali turun di Dayeuh Kolot

Ahad, 21 maret 2010, BSMI kab bandung kembali terjun ke Dayeuh Kolot. Kali ini banjir yang terjadi jauh lebih besar daripada banjir sebelumnya. Tim yang turun harus memulai perjalanan ke lokasi pengobatan dengan berjalan kaki didalam genangan air banjir setinggi lutut sejauh 1,5 km di jalan raya Dayeuh Kolot. Sementara sebagian tim yang lain harus naik Dokar sambil membawa obat-obatan. Sesampainya di gang kampung tujuan, selanjutnya kita meneruskan perjalanan dengan perahu kayu. Tim harus dibagi dalam tiga kali pengangkutan perahu yang dibantu dorongan oleh warga kampung.

Saat tim sampai di lokasi, di sebuah masjid yang lantai dasarnya sudah tergenang air, tim memanfaatkan lantai 2 masjid untuk melaksanakan kegiatan pengobatan ini. Selanjutnya seperti Baksos-baksos sebelumnya, tim membagi tugasnya masing-masing, mulai dari bagian pendaftaran pasien hingga pengambilan obat. Kali ini tim dari BSMI Kab.Bandung yang dibantu 1 dokter, 2 orang Koas FK unpad, 4 orang Koas FK Unisba. Pengobatan kita berikan pada sekitar 50 orang pasien. Banyak dari pasien mengeluhkan gatal-gatal, mual, magh, pegal-pegal, dan keluhan-keluhan lainnya. Selain keluhan tersebut, pasien-pasien tersebut juga mengeluhkan kurangnya bantuan pangan dan pakaian.

Bagi para pembaca yang berniat mendonasikan rizkinya, silahkan disalurkan donasi terbaik anda untuk Korban Bencana Banjir di Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Tanjung Priok No. Rek. 0200038569 a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia

Jumat, 05 Maret 2010

kegiatan BSMI di banjir Dayeuh Kolot

Ahad, 21 februari 2010, hari dimana kita 1 tim BSMI Kab. Bandung harus turun ke tempat banjir di Dayeuh Kolot, Kab. Bandung. Tepat pukul 07.30 WIB kita sudah harus berkumpul di Rumah Sakit Al islam Bandung. Tepat pukul 08.30 WIB, semua personil dan perlengkapan sudah siap diberangkatkan. Satu mobil bersama motor melaju menuju tempat lokasi, Dayeuh Kolot.
setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit akhirnya kita sampai di jantung Dayeuh kolot. Pemandangan yang sudah disuguhkan yaitu luberan sungai citarum dan genangan air di jalan-jalan Dayeuh kolot. Terjadi kemacetan sekitar 1 km lebih di jalan yang kami lewati yang akhirnya mengharuskan kita untuk turun dan menerjang banjir sambil membawa perlengkapan dan obat-obatan yang sudah kita bawa. Kita segera bergegas menuju desa tujuan yang tepat berada di belakang Masjid Agung Dayeuh Kolot.
sesampainya di lokasi, kita mempersiapkan tempat pengobatan serta obat-obatannya, sementara itu pun warga sudah berdatangan. Selanjutnya kita membagi tugas masing-masing mulai dari pendaftaran pasien hingga pasien mengambil obat. sekitar tiga jam kita sibuk dengan tugas masing-masing untuk memberikan pengobatan gratis bagi warga sekitar. Banyak pasien yang mengapresiasi kedatangan kami karena banyak pasien yang sakit akibat banjir yang menggenangi rumah mereka sekitar tiga minggu lamanya. Akhirnya setelah pasien yang datang sudah tidak ada, kita bergegas untuk kembali ke Base Camp, BSMI Bab. Bandung.